Kertas
4m

Anchoring: Terjebak Masa Lalu

Mengapa Anda menolak menjual saham yang sedang rugi hanya karena Anda terus mengingat harga saat Anda membelinya dulu.

Otak manusia diciptakan untuk mencari jalan pintas (shortcut) dalam mengambil keputusan. Sayangnya, di pasar saham, jalan pintas ini sering kali menyesatkan.

Salah satu kecacatan psikologis (bias) yang paling umum menimpa investor adalah Anchoring Bias (Bias Jangkar). Ini adalah kecenderungan otak Anda untuk terlalu bergantung (atau "menjangkarkan" diri) pada potongan informasi pertama yang Anda terima, dan mengabaikan informasi baru yang muncul setelahnya.

Dalam konteks trading, "informasi pertama" tersebut biasanya adalah Harga Pembelian Anda atau Harga Tertinggi Masa Lalu.

1. Menjangkarkan Diri pada Harga Beli

Ini adalah skenario klasik: Anda membeli saham BUMI di harga Rp 150. Sayangnya, fundamental perusahaan memburuk dan harga sahamnya longsor menjadi Rp 100.

Secara rasional, jika sebuah perusahaan berkinerja buruk, Anda harus menjualnya (Cut Loss). Namun, karena otak Anda sudah tertancap jangkar pada angka "Rp 150", Anda menolak untuk menjual.

Anda berkata pada diri sendiri: "Saya tidak mau jual rugi di Rp 100. Saya akan tunggu sampai harganya kembali ke Rp 150 (balik modal), baru saya jual." Ini adalah murni Anchoring Bias. Anda memaksa pasar (yang tidak peduli pada Anda) untuk menyesuaikan diri dengan harga beli pribadi Anda. Hasil akhirnya, saham itu sering kali terus melorot hingga ke Rp 50, dan Anda kehilangan seluruh modal.

Perhatian

Pasar tidak pernah tahu dan tidak peduli di harga berapa Anda membeli sebuah saham. Keputusan untuk menahan (hold) atau menjual (sell) saham hari ini harus didasarkan murni pada arah tren saat ini dan prospek bisnis ke depan, BUKAN didasarkan pada keinginan Anda untuk sekadar "balik modal".

2. Menjangkarkan Diri pada Harga Puncak (ATH)

Bentuk Anchoring kedua yang tidak kalah berbahaya adalah terpaku pada harga puncak masa lalu (All-Time High / ATH).

Misalnya saham bank digital pernah digoreng gila-gilaan pada tahun 2021 hingga menyentuh harga Rp 10.000. Setahun kemudian, trennya usai dan harganya hancur menjadi Rp 3.000. Investor pemula yang melihat hal ini akan berpikir: "Wah, ini diskon besar! Dulu harganya Rp 10.000, sekarang cuma Rp 3.000. Pasti sebentar lagi akan kembali ke Rp 10.000."

Lagi-lagi, ini adalah cacat logika. Fakta bahwa sebuah saham pernah menyentuh harga Rp 10.000 di masa lalu tidak memberikan jaminan apa pun bahwa harga tersebut wajar, apalagi akan kembali ke sana. Bisa jadi harga aslinya memang hanya Rp 1.000, dan harga Rp 10.000 dulu murni hasil manipulasi bandar (Gelembung / Bubble).

Obat Penawar Anchoring

Cara terbaik membebaskan diri dari jangkar masa lalu adalah dengan mengajukan pertanyaan ini setiap pagi sebelum bursa buka:

"Jika hari ini portofolio saya kosong (tidak punya saham apa pun), apakah saya mau membeli saham ini di harga sekarang?"

Jika jawabannya TIDAK, maka Anda harus segera menjual saham tersebut hari itu juga. Lepaskan jangkar harga beli Anda, dan terimalah realita pasar saat ini.

Ringkasan

  • Anchoring Bias adalah kecacatan psikologis yang membuat Anda terlalu melekat pada angka harga masa lalu.
  • Terpaku pada harga pembelian (ingin balik modal) akan menghambat Anda melakukan Cut Loss secara disiplin.
  • Terpaku pada harga puncak masa lalu akan menipu Anda untuk terus menangkap "pisau jatuh" di saham yang trennya sudah mati.
  • Hapus angka rata-rata pembelian (Average Price) di layar Anda jika itu membantu Anda berpikir lebih objektif.

Uji Pemahaman Singkat

1.Seorang trader menolak menjual sahamnya yang sudah turun 30% dengan alasan 'saya akan tunggu harganya kembali ke harga modal awal saya, baru saya lepas'. Cacat psikologis apakah yang sedang dialami oleh trader tersebut?