Mengumpulkan Dana Kedua Lewat Right Issue
Pahami mekanisme emiten mencetak saham baru, dan mengapa ini bisa menjadi berita baik atau buruk bagi harga saham Anda.
IPO adalah cara perusahaan meminta uang kepada publik untuk pertama kalinya. Namun, bagaimana jika 5 tahun kemudian perusahaan tersebut kembali kehabisan uang dan butuh tambahan modal lagi (entah untuk mencaplok perusahaan pesaing atau menambal utang bank yang mau jatuh tempo)?
Mereka tidak bisa melakukan IPO untuk kedua kalinya. Jalan keluarnya adalah menerbitkan lebih banyak lembar saham baru lagi untuk dijual ke publik. Aksi korporasi mencetak dan menjual saham baru pasca-IPO ini disebut Right Issue.
Efek Dilusi: Ancaman Bagi Pemegang Saham Lama
Masalah terbesar dari mencetak saham baru adalah Dilusi.
Bayangkan sebuah perusahaan yang berbentuk seperti loyang martabak yang dipotong menjadi 10 potong (10 lembar saham beredar). Anda memiliki 1 potong, berarti Anda menguasai 10% kepemilikan.
Tiba-tiba perusahaan memutuskan melakukan Right Issue dengan menambah 10 potong baru. Kini total martabak menjadi 20 potong. Jika Anda tidak membeli potongan yang baru, porsi kepemilikan Anda yang tadinya 10% akan menyusut (terdilusi) menjadi tinggal 5% saja (1 potong dari 20).
Bukan hanya hak suara Anda yang turun, porsi jatah laba per lembar (EPS) Anda pun akan ikut mengecil karena jumlah pembaginya semakin bengkak.
Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD)
Untuk melindungi Anda dari penyusutan (dilusi) yang tidak adil tersebut, hukum pasar modal di Indonesia mewajibkan perusahaan menggunakan sistem HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) setiap kali melakukan Right Issue.
Artinya, perusahaan tidak boleh langsung menjual saham cetakan baru itu ke orang asing. Mereka wajib menawarkan saham baru tersebut kepada Anda (dan pemegang saham lama lainnya) terlebih dahulu, sebelum ditawarkan ke investor luar.
Anda akan diberi "Kupon Hak" yang masuk ke portofolio Anda. Jika Anda ingin mempertahankan porsi kepemilikan 10% tadi, Anda harus menebus kupon tersebut dengan menyetor sejumlah uang tambahan untuk membeli saham baru sesuai rasio yang ditentukan.
Apakah Right Issue itu berita baik atau buruk? Semuanya tergantung pada alasan penggunaannya.
- Right Issue Ekspansi (Berita Baik): Perbankan besar seperti BBRI melakukan Right Issue jumbo untuk menyedot modal demi memberikan kredit lebih luas dan mencaplok perusahaan pegadaian. Uang yang masuk digunakan untuk mencetak laba lebih besar lagi di masa depan.
- Right Issue Penambal Lubang (Berita Buruk): Perusahaan maskapai yang nyaris bangkrut melakukan Right Issue sekadar untuk melunasi utang masa lalunya ke bank dan membayar sewa pesawat yang menunggak. Investor yang menyetor modal tidak akan melihat bisnis perusahaan membesar, uangnya hanya numpang lewat ke rekening bank kreditur.
Ringkasan
- Right Issue adalah proses pencetakan saham baru oleh emiten yang sudah berstatus perusahaan publik.
- Selalu memunculkan efek Dilusi (penyusutan porsi kepemilikan dan laba per lembar) bagi investor lama.
- Dilengkapi dengan sistem HMETD yang memberi hak istimewa (prioritas) kepada pemegang saham lama untuk membeli lebih dulu.
- Baik atau buruknya Right Issue murni ditentukan oleh alasan penggunaan dana hasil cetak saham tersebut.
Uji Pemahaman Singkat
1.Apa dampak matematis langsung yang terjadi pada porsi kepemilikan seorang investor lama jika ia mengabaikan (tidak menebus) hak belinya saat emiten melakukan Right Issue besar-besaran?