Apa itu Uang?
Sebelum belajar saham, kita perlu memahami apa itu uang, bagaimana cara kerjanya, dan mengapa uang bisa kehilangan nilainya dari waktu ke waktu.
Sebelum berbicara tentang saham, obligasi, atau pasar modal, kita perlu memahami satu hal dasar: uang.
Kedengarannya sederhana. Namun, pemahaman tentang uang adalah fondasi dari seluruh keputusan finansial.
Apa itu Uang?
Uang adalah alat tukar yang diterima secara umum oleh masyarakat untuk membeli barang dan jasa.
Sebelum ada uang, manusia menggunakan sistem barter, yaitu menukar barang langsung dengan barang. Petani menukar beras dengan ikan dari nelayan. Sistem ini punya masalah: bagaimana jika petani butuh ikan, tetapi nelayan tidak membutuhkan beras?
Budi punya 10 kg beras dan butuh 5 ekor ikan. Namun, Andi (nelayan) sedang tidak butuh beras; dia butuh kayu bakar.
Solusinya? Butuh perantara. Budi harus mencari orang yang punya kayu dan membutuhkan beras, lalu menukarnya dengan Andi.
Di sinilah uang hadir sebagai solusi.
Uang menyelesaikan masalah ini dengan menjadi alat tukar universal. Kamu tidak perlu mencari orang yang mau bertukar barang secara langsung; cukup gunakan uang.
Tiga Fungsi Utama Uang
Fungsi Uang
Uang memiliki tiga fungsi utama yang membedakannya dari barang biasa.
1. Alat Tukar (Medium of Exchange)
Uang memudahkan transaksi. Bekerja, mendapatkan uang, lalu membeli barang yang dibutuhkan.
2. Penyimpan Nilai (Store of Value)
Uang bisa disimpan untuk digunakan nanti. Berbeda dengan barter, ikan segar tidak dapat disimpan 6 bulan, sementara uang bisa.
Namun, uang tidak selalu menjaga nilainya dengan sempurna. Penurunan daya beli uang dari waktu ke waktu disebut inflasi.
3. Satuan Hitung (Unit of Account)
Uang memberikan ukuran standar untuk membandingkan nilai. Kamu bisa menyebut "rumah ini Rp 500 juta" dan semua orang paham skalanya, tanpa perlu menghitung kesetaraan dengan beras atau ikan.
Uang Bisa Kehilangan Nilai
Uang kertas tidak memiliki nilai intrinsik. Selembar Rp 100.000 hanyalah secarik kertas. Nilainya berasal dari kepercayaan bersama bahwa kertas tersebut dapat ditukar dengan barang senilai Rp 100.000.
Karena berbasis kepercayaan, nilai tukar uang dapat berubah.
Tahun 2000, uang Rp 100.000 cukup untuk makan siang di restoran dan masih tersisa.
Tahun 2024, Rp 100.000 hanya cukup untuk makan siang sederhana.
Begitulah inflasi bekerja. Jumlah uang sama, tetapi daya belinya berkurang.
Rata-rata inflasi Indonesia berada di kisaran 3–5% per tahun dalam satu dekade terakhir.
Implikasinya untuk Investasi
Jika kamu menyimpan Rp 1.000.000 di rumah selama 10 tahun, nominalnya tetap Rp 1.000.000. Namun, daya belinya sudah menyusut.
Dengan inflasi 5% per tahun, nilai riil uang tersebut berkurang kira-kira setengahnya dalam 14 tahun (berdasarkan Aturan 72: 72 ÷ 5 = 14,4 tahun).
Tujuan investasi adalah mempertahankan atau menumbuhkan daya beli uang di tengah inflasi.
Tips Belajar
Aturan 72 adalah cara cepat memperkirakan waktu penggandaan atau penyusutan nilai. Bagi 72 dengan persentase inflasi. Contoh: inflasi 6% per tahun berarti uang kehilangan setengah daya belinya dalam 72 ÷ 6 = 12 tahun.
Ringkasan
- Uang adalah alat tukar, penyimpan nilai, dan satuan hitung.
- Uang fiat tidak memiliki nilai intrinsik; nilainya berdasarkan kepercayaan masyarakat.
- Inflasi mengikis daya beli uang dari waktu ke waktu.
- Tujuan utama berinvestasi adalah menjaga daya beli dari dampak inflasi.
Uji Pemahaman Singkat
1.Apa masalah utama dari sistem barter yang diselesaikan oleh uang?
2.Jika inflasi rata-rata 6% per tahun, berapa lama (kira-kira) hingga daya beli uang berkurang setengahnya?
3.Dari mana nilai uang kertas (fiat money) berasal?