Mengukur Risiko Utang dengan DER
Utang adalah pedang bermata dua. DER membantu Anda mendeteksi apakah sebuah perusahaan sedang berjalan menuju kebangkrutan.
Dalam dunia bisnis, berutang bukanlah sebuah dosa. Faktanya, nyaris tidak ada perusahaan raksasa di Bursa Efek Indonesia yang beroperasi dengan nol persen utang. Utang yang dikelola dengan baik bertindak sebagai tuas (leverage) yang mempercepat pertumbuhan bisnis.
Namun, jika utang mulai tidak terkendali dan bunganya mencekik arus kas, perusahaan bisa tamat. Untuk mengukur batas aman utang ini, investor menggunakan Debt to Equity Ratio (DER) atau Rasio Utang terhadap Modal.
Rumus Sederhana DER
Cara menghitungnya sangat lurus: Total Liabilitas (Utang) / Total Ekuitas (Modal Sendiri)
Misalkan PT Bangun Rumah (BRMH) memiliki total utang bank Rp 2 triliun, dan modal murni pemegang sahamnya sebesar Rp 1 triliun. Maka DER-nya adalah: (2 triliun / 1 triliun) = 2.0x (atau 200%).
Angka DER 2.0x ini berarti porsi utang perusahaan besarnya dua kali lipat dibandingkan modal murninya. Jika terjadi kebangkrutan dan seluruh modal perusahaan disita, uang itu masih belum cukup untuk membayar lunas utangnya ke bank.
Berapa Batas Aman DER?
Aturan praktis (rule of thumb) yang paling umum di kalangan penganut aliran fundamental adalah mencari perusahaan dengan DER di bawah 1.0x (atau di bawah 100%).
DER di bawah 1.0x menandakan bahwa modal murni perusahaan masih lebih besar dibandingkan total utangnya. Secara struktur, ini adalah benteng pertahanan yang sangat kuat jika sewaktu-waktu krisis ekonomi menghantam.
Namun, Anda wajib memperhatikan karakter sektoral:
- Sektor Konstruksi dan Properti: Sektor ini memang kodratnya menyedot modal luar biasa besar. Menemukan BUMN Karya atau perusahaan properti dengan DER 2.0x hingga 3.0x adalah pemandangan wajar.
- Sektor Perbankan (Pengecualian Mutlak): Jangan pernah menggunakan DER untuk menganalisis saham bank (seperti BBCA atau BMRI). Dalam neraca bank, tabungan dan deposito nasabah dicatat sebagai "Utang" (Liabilitas). Akibatnya, rasio DER sebuah bank yang sehat sekalipun pasti akan terlihat sangat raksasa (bisa mencapai 5.0x hingga 8.0x).
Perhatian
Waspadai emiten yang DER-nya pelan-pelan merayap naik dari 1.0x menjadi 2.0x lalu 3.0x dalam tiga tahun terakhir berturut-turut, namun di sisi lain laba usahanya stagnan. Itu artinya setiap rupiah utang baru yang ditarik tidak lagi produktif dan hanya digunakan untuk menambal lubang operasional (atau gali lubang tutup lubang).
Ringkasan
- DER membandingkan porsi uang hasil pinjaman (utang) dengan porsi uang modal murni (ekuitas).
- DER di bawah 1.0x secara umum dianggap sehat dan konservatif (risiko rendah).
- Batas toleransi DER sangat bergantung pada sektor industri; sektor konstruksi wajar berutang besar.
- Rasio DER haram digunakan untuk menganalisis saham perbankan karena dana pihak ketiga (tabungan nasabah) tercatat sebagai utang.
Uji Pemahaman Singkat
1.Mengapa Anda dilarang keras menggunakan rasio DER (Debt to Equity Ratio) untuk menilai tingkat risiko gagal bayar pada saham perbankan?