Kertas
3m

Membongkar Efisiensi Aset (ROA)

Pahami perbedaan krusial antara ROE dan ROA untuk mendeteksi seberapa efisien perusahaan memanfaatkan keseluruhan hartanya.

Jika Return on Equity (ROE) mengukur keuntungan berdasarkan modal murni pemegang saham, maka Return on Assets (ROA) melangkah lebih jauh. ROA mengukur kepintaran manajemen mencetak laba dengan menggunakan seluruh harta yang dikuasai perusahaan, tak peduli apakah harta itu didapat dari modal sendiri atau dari tumpukan utang bank.

Konsep Dasar ROA

Rumus ROA sangat sederhana: Laba Bersih / Total Aset x 100%

Misalkan PT Transportasi Angkut (TRSA) memiliki armada ratusan truk dan gudang raksasa dengan total nilai aset Rp 1 triliun. Tahun lalu, TRSA membukukan laba bersih Rp 50 miliar. Maka ROA-nya adalah: (50 miliar / 1 triliun) = 5%.

Angka 5% ini berarti setiap Rp 1.000 aset fisik dan non-fisik yang menumpuk di perusahaan hanya mampu memproduksi laba bersih sebesar Rp 50.

Perangkap Ilusi ROE Tinggi

Mengapa investor yang tangguh harus membaca ROA bersandingan dengan ROE? Tujuannya adalah untuk mendeteksi kebusukan di balik ilusi "utang produktif".

Banyak perusahaan dengan struktur modal yang cacat mampu memoles angka ROE mereka hingga terlihat cantik (misalnya 25%). Namun saat Anda memeriksa ROA-nya, angkanya hancur berantakan di level 1% atau 2%.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Karena perusahaan itu membiayai 90% operasional bisnisnya menggunakan pinjaman bank. Karena modal murninya (Ekuitas) sangat kecil, ROE akan otomatis meledak naik (pembaginya kecil). Namun, begitu digabungkan dengan total utangnya (Total Aset), rasio ROA-nya telanjang bulat menunjukkan bahwa bisnis mereka sebenarnya luar biasa tidak efisien.

ROE vs ROA di Sektor MaskapaiObservasi Emiten Transportasi

Emiten penerbangan (maskapai) hampir selalu menyewa pesawarnya dari pihak ketiga, atau berutang ratusan triliun untuk mendatangkan armada baru.

Akibatnya, perusahaan seperti ini sering kali mencetak ROE yang sangat fluktuatif dan kadang terlihat besar. Namun karena total aset (termasuk pesawat yang dibiayai utang) sangat bengkak sementara laba bersihnya sangat tipis tergerus biaya bahan bakar dan cicilan, angka ROA maskapai biasanya sangat menyedihkan (bahkan sering negatif). Bisnis yang sangat boros modal dengan imbal hasil kerdil.

Standar ROA yang Ideal

Tidak ada angka pasti yang baku karena sangat bergantung pada jenis sektor industrinya.

  • Sektor Padat Karya / Aset Fisik Berat (seperti manufaktur, baja, atau properti): ROA di angka 5% hingga 10% sudah dianggap sangat baik.
  • Sektor Ramping Aset (seperti konsultan, teknologi murni, atau barang konsumsi): Karena aset fisiknya sedikit, mereka wajib mencetak ROA di atas 10% hingga 15% agar layak disebut efisien.

Ringkasan

  • ROA mengukur seberapa efisien perusahaan mencetak laba menggunakan seluruh aset yang dikuasainya (modal + utang).
  • Berguna membongkar "topeng" perusahaan yang ROE-nya terlihat besar karena manipulasi rasio utang.
  • Perusahaan yang memiliki selisih gap terlampau jauh antara besarnya ROE dan kecilnya ROA patut dicurigai sebagai tukang utang kelas berat.

Uji Pemahaman Singkat

1.Apa yang bisa disimpulkan jika sebuah perusahaan melaporkan angka ROE yang sangat tinggi (misalnya 35%), namun di saat bersamaan angka ROA-nya sangat rendah (misalnya 2%)?