Kertas
4m

Price to Earnings Ratio (PER / PE)

Menganalisis rasio Price to Earnings Ratio (PER): rumus perhitungan, cara menilai valuasi murah/mahal, dan perbandingan sejenis.

Price to Earnings Ratio (PER / PE) atau Rasio Harga terhadap Laba Bersih adalah metrik valuasi fundamental yang paling umum digunakan untuk mengukur seberapa murah atau mahal harga saham dibandingkan laba bersih per lembar yang dihasilkan emiten.

Rasio PER memberi gambaran berapa rupiah yang dibayar investor untuk setiap 1 rupiah laba bersih tahunan perusahaan.

Rumus Perhitungan PER

Rasio PER dihitung menggunakan rumus matematis sederhana:

PER = Harga Saham Per Lembar / Laba Bersih Per Lembar Saham (EPS)

Sebagai contoh, jika saham sebuah emiten ditransaksikan di harga Rp 9.000 dan memiliki Laba Bersih per Lembar Saham (EPS) sebesar Rp 600, maka:

PER = Rp 9.000 / Rp 600 = 15.0x

Ini berarti harga saham tersebut dihargai 15 kali lipat dari laba tahunannya.

Cara Menilai Rasio PER

  1. Bandingkan dengan Perusahaan Sejenis (Peer Comparison): Nilai PER 15x di sektor perbankan bisa dikategorikan wajar, namun nilai PER 15x di sektor komoditas mungkin dikategorikan mahal. Selalu bandingkan PER emiten dengan emiten lain di sektor yang sama.
  2. Bandingkan dengan Rata-rata Historis (Historical Mean): Bandingkan PER saat ini dengan rata-rata PER saham tersebut dalam rentang 3–5 tahun terakhir.
  3. Waspadai PER Rendah Semu (Cyclical Trap): Pada emiten komoditas (seperti batu bara atau kelapa sawit), PER yang tampak sangat rendah (misalnya PER 3x) sering kali muncul di puncak siklus laba dan bukan menandakan harga murah.
Memuat diagram...

Rasio Price/Earnings to Growth (PEG)

Untuk mengukur apakah PER yang tinggi sepadan dengan pertumbuhan laba perusahaan, gunakan rasio PEG (PEG = PER / Pertumbuhan EPS %). Nilai PEG di bawah 1.0 dikategorikan menarik.

Perbandingan Rasio PER Perbankan BEILaporan Keuangan BEI

Dua bank besar di BEI memiliki data berikut:

  • Bank A: Harga Rp 9.000, EPS Rp 600 -> PER = 15,0x (Pertumbuhan laba 12% per tahun).
  • Bank B: Harga Rp 4.500, EPS Rp 150 -> PER = 30,0x (Pertumbuhan laba 25% per tahun).

Meskipun nominal harga Bank B tampak lebih kecil (Rp 4.500 vs Rp 9.000), secara valuasi Bank A jauh lebih murah (PER 15x vs 30x) daripada Bank B relatif terhadap laba bersih yang dihasilkannya.

Ringkasan

  • PER mengukur perbandingan antara harga pasar saham dengan laba bersih per lembar (EPS).
  • Menggambarkan berapa kali lipat laba tahunan yang dibayar investor untuk membeli saham.
  • Evaluasi PER wajib dibandingkan dengan kompetitor sejenis dan rata-rata historis emiten.
  • Waspadai jebakan PER rendah pada emiten komoditas siklikal (Cyclical Trap).

Uji Pemahaman Singkat

1.Jika saham emiten X memiliki harga Rp 5.000 per lembar dan mencatatkan EPS tahunan sebesar Rp 500, berapakah nilai rasio PER emiten tersebut?

2.Mengapa membandingkan nominal harga per lembar saham (misal Rp 500 vs Rp 5.000) tanpa melihat rasio PER dianggap kekeliruan analisis fundamental?